Sh*t, Fifty Shades Darker Nggak Bisa Tayang di Indo? (Critics for Indonesian Film Industries)

by - February 19, 2017

Yah sebenernya sih gue udah bisa nebak kalau Fifty Shades Darker nggak akan tayang di negeri kita tercinta ini. Alasannya? You know lah, klasik dan selalu bawa-bawa yang namanya agama. Tapi gue masih merasa disappointed aja sih. Padahal ini film bagus dan banyak juga moral value yang bisa kita ambil. At least, jangan cuma melihat dari banyaknya adegan seks (yang menurut gue nggak separah yang orang banyangin, masih banyak yang lebih parah dari ini), tapi cobalah buat melihat
dari sudut pandang yang lebih baik. So, sekalian mengungkapkan kekecewaan gue karna FSD nggak bisa tayang di indo, gue juga pengen bahas soal perfilman di Indo yang gue rasa temanya sangat monoton dan nggak cukup berani.



Seperti film pendahulunya Fifty Shades of Grey yang juga nggak bisa tayang di Indonesia karna nggak lulus sensor, Fifty Shades Darker pun juga menuai nasib yang sama. Alhasil, penggemar Fifty Shades Trilogy di Indonesia jadi agak susah buat menikmati film yang diadaptasi dari novel tersebut. Kecuali, lo bisa pergi ke luar negeri dan nonton tuh film, it's lucky for you! 

FSD sendiri adalah sequel dari FSOG yang dibintangi oleh aktor dan aktris yang sama, Jamie Dornan dan Dakota Johnson. FSD masih mengisahkan soal kisah cinta Christian Grey si pengusaha kaya penderita kelainan seks BDSM dan Anastasia Steele, si cewek biasa yang baru aja lulus kuliah dan memulai karirnya di bidang penulisan. Nah, kalau gue baca dari novelnya (sedih, gue belom bisa nonton filmnya dan masih nunggu versi downloadnya di internet) di film ini si Christian bakal buka-bukaan soal rahasia dia yang menyangkut kelainan BDSM yang dia alami. Christian dan Anna nya juga semakin deket dan romantis disini, mereka bahkan berlibur dengan mengarungi samudera pakai kapal pesiar punyanya si Mr. Grey loh! Kalau lo udah liat teaser-nya lo pasti bakal penasaran banget buat nonton FSD. Tapi, selain beberapa potongan kisah bahagia tadi, ada juga nih bagian cerita kelam yang turut meramaikan jalannya alur cerita. Seperti yang udah gue bilang tadi, ternyata si Christian punya masa lalu kelam tentang masa kecilnya yang dibesarkan oleh seorang prostitute. Ia bahkan juga pernah menjadi submissive ketika masih remaja dengan temen mamanya yang bernama Eleanor siapa gue lupa, yang kalau sama Anna dipanggil Mrs. Robinson. Christian masih suka mengalami mimpi buruk yang disebabkan oleh traumanya dan Anna harus berjuang buat tetap berada di sisi Christian. Oh ya, selain itu bakalan muncul juga cewek mantan submissive Christian yang mengincar Anna dengan sebuah pistol. Seru dan kompleks banget kan ceritanya? Makanya gue bilang di awal kalau cerita ini ga melulu soal seks, tapi konfliknya juga dapet. Dan pastinya, sayang banget jujur kalau film ini nggak bisa tayang di Indonesia.

Well, sebenernya bukan cuma Fifty Shades Trilogy yang nggak bisa tayang di Indonesia. Sederet film yang punya cerita bagus dan unik pun nggak lolos sensor disini kaya Gone Girl, Noah, Irreversible, dan masih banyak lagi. Rata-rata penyebabnya adalah karna film-film tersebut berbau seks lah, menyinggung soal agama lah, dan banyak alasan yang menurut gue memang itulah yang ingin diungkapkan lewat film itu. Sebenernya gue bingung banget kenapa negeri ini terlalu ketat mengawasi soal hal-hal seperti itu. Ya, negeri kita emang kesannya Islamic, sama seperti Malaysia. Tapi kalau buat urusan seni harusnya nggak disangkutin dengan agama. Seni itu beda dengan agama. Dan kalau mereka digabungin ya hasilnya bakal nggak ada yang mencapai nilai seratus. Gue emang bukan orang yang pinter soal agama atau pun juga soal seni. Tapi gue belajar di bidang seni, khususnya seni sastra yang punya prinsip bahwa karya sastra adalah gambaran kehidupan manusia yang dituangkan lewat tulisan. So, menurut gue, baik sastranya atau filmnya sama-sama bercerita soal sisi kehidupan manusia yang nggak semuanya tentang kebaikan, tapi ada juga sisi gelapnya.

Sekedar tahu atau bahkan mau belajar memahami sebuah sisi kehidupan yang berbeda dengan prinsip hidup kita bukanlah sesuatu yang buruk kan? Justru karya sastra dan film ini membantu kita banget dalam memahami semua itu. Tapi kenapa pemerintah Indo malah melarang dan kesannya biar seolah-olah orang-orang kita adalah orang alim, bebas dari dosa, dan nggak neko-neko? Please, daripada dianggep kaya gitu gue malah merasa kalau ini yang menyebabkan sebagian orang kita berpikiran sempit dan nggak terbuka. Karena buat mau tahu soal hal-hal yang berbeda aja nggak mau, gimana mau memahami?

Sebenernya film-film buatan Indonesia di zaman sekarang kesannya monoton banget buat gue. Ceritanya juga gampang ketebak. Kalau nggak kisah cinta-cintaan yang bikin mewek ya paling horror-horroran nggak mutu yang malah banyak adegan nggak jelas dan nggak nyambung. Kenapa sih nggak sekali-kali bikin cerita yang beda. Yang terkesan dark macam Gone Girl misalnya. Atau mengungkit soal fakta yang sebenernya udah banyak terjadi di masyarakat tapi nggak diungkap ke publik. Misal seperti di film Something in Way yang diperanin Reza Rahardian dan Ratu Felisha. Cerita di film ini mengisahkan soal seorang supir taksi yang kelihatannya taat beribadah tapi suka masturbasi di malam hari. Sekali lagi, gue bukannya mengangkat soal adegan seks, tapi makna yang ada di film ini. Bahwa apapun atau siapapun yang kita liat baik di luar, belum tentu baik juga di dalam kan? Dan lagi, seperti film yang ada adegan tabu dikit pasti nggak boleh tayang di Indo. Padahal film-film tersebut justru mendapat banyak apresiasi di luar negeri. Hebat kan?

Finally, gue sebagai orang Indo cuma berharap agar perfilman di negeri ini bisa sedikit lebih terbuka dan nggak terlalu ngotot dengan aturan-aturan yang membuat kita nggak berkembang. Kalau mau film-film Indo terkenal sampai Internasional, ya jangan sungkan buat jadi lebih berani. Berani buat beda atau menjadi lebih dark bukan sesuatu yang salah kan?

Keep influencing,
A 👯

You May Also Like

0 komentar