Akhir Cerita Magang Jadi Jurnalis
Let's say hip hip hurray! Akhirnya masa magangku selama 31 hari berakhir juga! Yeay!! Seneng banget sih rasanya, lega karena satu beban kuliah akhirnya terangkat ke udara (apasih). Hari ini udah genap sepuluh hari sejak hari terakhir magang aku berakhir. Hmm, kangen juga sih sama liputan. Dan jujur aja setiap kali aku lihat acara-acara event gitu, aku masih suka kebawa sama suasana waktu masih sibuk cari-cari acara buat diliput. Belum bisa move on sepenuhnya nih sama magang. Jadi, kali ini aku mau nulis soal nilai-nilai berharga yang aku dapetin selama jadi jurnalis magang. Let's see!
1. Keberanian
Oke, ini adalah sesuatu yang paling mendasar yang aku pelajari selama 31 hari. Keberanian atau brave. Yup, sebagian orang kayaknya punya problem dengan hal ini. Aku pun juga begitu. Honestly, aku orangnya bukan tipe yang berani-berani amat. Saat terjun ke lingkungan sosial, aku pasti merasa deg-degan dan selalu berusaha buat tampil bagus (maksudnya jangan sampai malu-maluin diri sendiri). Terlebih ketika datang ke tempat baru atau bertemu dengan orang-orang baru. Dan well, aku sih sebenernya adalah tipe orang yang anti pergi ke suatu acara sendirian. I think it'll make me look like a loner. Tapi waktu jadi jurnalis magang kemarin, mau nggak mau aku harus melawan rasa kurang pede ini dan menghilangkan anggapanku itu. Awalnya nggak gampang sih, setiap hari aku datang ke acara yang berbeda dan ngobrol sama orang-orang baru yang semuanya nggak aku kenal. Yang aku takutin disini adalah 'gimana kalau sikap aku awkward?' Yah, setiap kali liputan pasti selalu mikir begitu. Alhasil pas pulang aku selalu ngasih penilaian ke diri aku sendiri soal bagaimana sikapku tadi saat liputan. Pernah aku kasih nilai A, yang berarti aku merasa kalau aku cukup sopan, murah senyum, ramah, dan mungkin nggak ada kesalahan yang aku perbuat. Tapi, pernah juga aku mikir kalau sikapku adalah totally D, yang berarti awkward, kurang sopan, jaim, dan nggak humble. Ketika aku kasih penilaian jelek ke diriku sendiri, aku selalu coba buat evaluasi dan berusaha buat nggak lagi ngelakuin hal yang sama. Lucky for me, cara itu cukup berhasil dan aku merasa kalau semakin kesini, aku jadi semakin pede buat dateng ke acara sendirian dan ketemu orang baru. Karena yang sempurna itu butuh proses kan?
2. Kreatifitas
Menurutku buat jadi kreatif, seseorang harus dihadapkan pada sesuatu yang menantang. Jadi gini, misalkan kamu adalah seorang mahasiswa yang detik ini belum ngerjain paper sama sekali padahal 1 jam lagi dikumpul, kamu pasti akan mencari berbagai upaya buat menyelesaikannya. Dari situ, otak kamu bakalan mikir keras sampai menghasilkan sesuatu untuk menyelesaikannya. Nah, kemudian 'sesuatu' itulah yang dinamakan kreatifitas. Terserah sih mau setuju atau nggak, tapi apa yang aku alami sih begitu. Ketika aku magang kemarin, setiap hari aku dituntut buat ngumpulin berita minimal 1, kecuali kalau pas off. Karena itu, mau nggak mau aku harus selalu ngubek-ngubek google, instagram, line, atau lainnya buat cari tahu soal acara-acara yang akan diselenggarakan di Jogja. Masalahnya adalah, nggak setiap hari di Jogja ada acara. Mungkin ada, tapi acara yang segmennya nggak sesuai dengan tempat magangku. Nah, disini aku harus muter otak gimana caranya biar aku bisa tetep ngumpulin berita. Hasilnya aku pun berpikir buat wawancara orang yang inspiratif yang profilnya bisa aku tulis di feature. Well, emang nggak semua dimuat sih. Tapi menurutku, disitulah daya kreatifitasku bekerja. Soal hasilnya ya lihat belakangan aja, yang penting berusaha dulu semaksimal mungkin.
3. Kekompakan
Bisa dibilang ini adalah sesuatu yang crucial sih. Karena menurutku, sehebat-hebatnya kita dalam segala hal, kita pasti nggak akan bisa lepas dari bantuan orang lain. Well, manusia kan emang pada dasarnya adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Kita nggak diciptakan buat hidup secara individu. Sama halnya dengan pengalamanku ini. Selama magang, aku dan temen-temen emang lebih banyak menjalani liputan sendiri-sendiri. Bukannya individu egois gitu, tapi ya karna emang peraturannya seperti itu. Tapi ada kalanya kami yang masih mahasiswi moody-an dan belum pede-pede amat suka segan buat dateng ke acara sendirian. Apalagi kalau acaranya gede-gedean dan bikin kita agak mikir buat pergi sendiri. Jadi, disinilah gunanya kekompakan. Kita saling nemenin dan bantu kalo pas lagi ada yang butuh bantuan. Kadang juga bantu nyariin acara buat temen yang nggak dapet liputan. Pas ada project tim apalagi, kekompakannya harus lebih ditonjolkan karena bisa berimbas sama bagus nggaknya konten yang kita buat. Intinya adalah, jangan pernah jadi orang egois dan individualis karena kita pasti akan membutuhkan bantuan dari orang lain.
4. Kesabaran
Namanya aja dunia kerja, pasti ada suka dan dukanya. Disinilah kesabaran kita akan diuji. Kita akan dilihat apakah kita bisa menjadi karyawan yang kuat atau lemah, tahan banting atau cengeng. Jadi jurnalis itu sebenernya nggak gampang. Kendala yang pernah aku hadapi adalah soal cuaca, sungkan, malas, bingung, dan sedih pas ternyata tulisanku nggak ditayang. Semua itu udah jadi temen aku selama 31 hari. Setiap kali aku nulis hasil liputan, aku selalu berusaha semaksimal mungkin agar tulisanku bisa dicetak. Meski tulisan yang bagus pun belum tentu dicetak karena berbagai pertimbangan dari editor. Sedih banget kan kalau udah capek-capek liputan tapi ternyata hasilnya nggak ditayangin? Ya tapi emang gitu keadaannya. Dan aku sebagai anak magang juga cuma bisa berusaha dan tabah tulisanku bakal dimuat atau nggak. Dimuat seneng nggak ya udah nggak apa-apa. Toh kesabaran ini juga yang membuatku bisa menyelesaikan 31 rough days being a journalist. So, it's important to be patient while keep trying to do the best.
Banyak banget pelajaran berharga yang aku dapatkan selama magang. Senengnya jadi jurnalis adalah kita bisa mengexplore banyak hal dan bisa ketemu sama orang-orang baru yang beragam. Jelas itu adalah sebuah keuntungan yang sangat berharga karena bisa nambah knowledge kita akan sesuatu. Selain kesenangan yang di dapat, ada juga kendalanya. Tapi kalau kita bisa jadi manusia yang kuat dan pantang menyerah, semuanya pasti akan dapat kita lalui hingga mencapai titik kesuksesan yang kita inginkan.
Keep influencing,
Avisha 💕
1. Keberanian
Oke, ini adalah sesuatu yang paling mendasar yang aku pelajari selama 31 hari. Keberanian atau brave. Yup, sebagian orang kayaknya punya problem dengan hal ini. Aku pun juga begitu. Honestly, aku orangnya bukan tipe yang berani-berani amat. Saat terjun ke lingkungan sosial, aku pasti merasa deg-degan dan selalu berusaha buat tampil bagus (maksudnya jangan sampai malu-maluin diri sendiri). Terlebih ketika datang ke tempat baru atau bertemu dengan orang-orang baru. Dan well, aku sih sebenernya adalah tipe orang yang anti pergi ke suatu acara sendirian. I think it'll make me look like a loner. Tapi waktu jadi jurnalis magang kemarin, mau nggak mau aku harus melawan rasa kurang pede ini dan menghilangkan anggapanku itu. Awalnya nggak gampang sih, setiap hari aku datang ke acara yang berbeda dan ngobrol sama orang-orang baru yang semuanya nggak aku kenal. Yang aku takutin disini adalah 'gimana kalau sikap aku awkward?' Yah, setiap kali liputan pasti selalu mikir begitu. Alhasil pas pulang aku selalu ngasih penilaian ke diri aku sendiri soal bagaimana sikapku tadi saat liputan. Pernah aku kasih nilai A, yang berarti aku merasa kalau aku cukup sopan, murah senyum, ramah, dan mungkin nggak ada kesalahan yang aku perbuat. Tapi, pernah juga aku mikir kalau sikapku adalah totally D, yang berarti awkward, kurang sopan, jaim, dan nggak humble. Ketika aku kasih penilaian jelek ke diriku sendiri, aku selalu coba buat evaluasi dan berusaha buat nggak lagi ngelakuin hal yang sama. Lucky for me, cara itu cukup berhasil dan aku merasa kalau semakin kesini, aku jadi semakin pede buat dateng ke acara sendirian dan ketemu orang baru. Karena yang sempurna itu butuh proses kan?
2. Kreatifitas
Menurutku buat jadi kreatif, seseorang harus dihadapkan pada sesuatu yang menantang. Jadi gini, misalkan kamu adalah seorang mahasiswa yang detik ini belum ngerjain paper sama sekali padahal 1 jam lagi dikumpul, kamu pasti akan mencari berbagai upaya buat menyelesaikannya. Dari situ, otak kamu bakalan mikir keras sampai menghasilkan sesuatu untuk menyelesaikannya. Nah, kemudian 'sesuatu' itulah yang dinamakan kreatifitas. Terserah sih mau setuju atau nggak, tapi apa yang aku alami sih begitu. Ketika aku magang kemarin, setiap hari aku dituntut buat ngumpulin berita minimal 1, kecuali kalau pas off. Karena itu, mau nggak mau aku harus selalu ngubek-ngubek google, instagram, line, atau lainnya buat cari tahu soal acara-acara yang akan diselenggarakan di Jogja. Masalahnya adalah, nggak setiap hari di Jogja ada acara. Mungkin ada, tapi acara yang segmennya nggak sesuai dengan tempat magangku. Nah, disini aku harus muter otak gimana caranya biar aku bisa tetep ngumpulin berita. Hasilnya aku pun berpikir buat wawancara orang yang inspiratif yang profilnya bisa aku tulis di feature. Well, emang nggak semua dimuat sih. Tapi menurutku, disitulah daya kreatifitasku bekerja. Soal hasilnya ya lihat belakangan aja, yang penting berusaha dulu semaksimal mungkin.
3. Kekompakan
Bisa dibilang ini adalah sesuatu yang crucial sih. Karena menurutku, sehebat-hebatnya kita dalam segala hal, kita pasti nggak akan bisa lepas dari bantuan orang lain. Well, manusia kan emang pada dasarnya adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Kita nggak diciptakan buat hidup secara individu. Sama halnya dengan pengalamanku ini. Selama magang, aku dan temen-temen emang lebih banyak menjalani liputan sendiri-sendiri. Bukannya individu egois gitu, tapi ya karna emang peraturannya seperti itu. Tapi ada kalanya kami yang masih mahasiswi moody-an dan belum pede-pede amat suka segan buat dateng ke acara sendirian. Apalagi kalau acaranya gede-gedean dan bikin kita agak mikir buat pergi sendiri. Jadi, disinilah gunanya kekompakan. Kita saling nemenin dan bantu kalo pas lagi ada yang butuh bantuan. Kadang juga bantu nyariin acara buat temen yang nggak dapet liputan. Pas ada project tim apalagi, kekompakannya harus lebih ditonjolkan karena bisa berimbas sama bagus nggaknya konten yang kita buat. Intinya adalah, jangan pernah jadi orang egois dan individualis karena kita pasti akan membutuhkan bantuan dari orang lain.
4. Kesabaran
Namanya aja dunia kerja, pasti ada suka dan dukanya. Disinilah kesabaran kita akan diuji. Kita akan dilihat apakah kita bisa menjadi karyawan yang kuat atau lemah, tahan banting atau cengeng. Jadi jurnalis itu sebenernya nggak gampang. Kendala yang pernah aku hadapi adalah soal cuaca, sungkan, malas, bingung, dan sedih pas ternyata tulisanku nggak ditayang. Semua itu udah jadi temen aku selama 31 hari. Setiap kali aku nulis hasil liputan, aku selalu berusaha semaksimal mungkin agar tulisanku bisa dicetak. Meski tulisan yang bagus pun belum tentu dicetak karena berbagai pertimbangan dari editor. Sedih banget kan kalau udah capek-capek liputan tapi ternyata hasilnya nggak ditayangin? Ya tapi emang gitu keadaannya. Dan aku sebagai anak magang juga cuma bisa berusaha dan tabah tulisanku bakal dimuat atau nggak. Dimuat seneng nggak ya udah nggak apa-apa. Toh kesabaran ini juga yang membuatku bisa menyelesaikan 31 rough days being a journalist. So, it's important to be patient while keep trying to do the best.
Banyak banget pelajaran berharga yang aku dapatkan selama magang. Senengnya jadi jurnalis adalah kita bisa mengexplore banyak hal dan bisa ketemu sama orang-orang baru yang beragam. Jelas itu adalah sebuah keuntungan yang sangat berharga karena bisa nambah knowledge kita akan sesuatu. Selain kesenangan yang di dapat, ada juga kendalanya. Tapi kalau kita bisa jadi manusia yang kuat dan pantang menyerah, semuanya pasti akan dapat kita lalui hingga mencapai titik kesuksesan yang kita inginkan.
Keep influencing,
Avisha 💕
0 komentar